Asuhan Keperawatan Benigna Prostat Hiperplasi (BPH)

Posted: 5 November 2012 in Uncategorized

A. Konsep Dasar
1. Pengertian
Benigna Prostat Hiperplasi ( BPH ) adalah pembesaran jinak kelenjar prostat, disebabkan oleh karena hiperplasi beberapa atau semua komponen prostat meliputi jaringan kelenjar / jaringan fibromuskuler yang menyebabkan penyumbatan uretra pars prostatika ( Lab / UPF Ilmu Bedah RSUD dr. Sutomo, 1994 : 193 ).
Pendapat lain mengatakan bahwa BPH adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat ( secara umum pada pria lebih tua dari 50 tahun ) menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretral dan pembatasan aliran urinarius ( Marilynn, E.D, 2000 : 671 ).
Dari kedua pengertian tersebut maka penulis menyimpulkan bahwa BPH adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat, bersifat jinak disebabkan oleh hiperplasi beberapa atau semua komponen prostat yang mengakibatkan penyumbatan prostatika dan umumnya terjadi pada pria dewasa lebih dari 50 tahun.
Reseksi Transuretra pada Prostat ( TURP ) adalah pengangkatan sebagian atau seluruh kelenjar prostat melalui

sistoskop atau resektoskop yang dimasukkan melalui uretra (Susan, M.T, 1998: 607).
Sedangkan tokoh lain mengatakan bahwa TURP adalah prostat obstruksi dari lobus medial sekitar uretra diangkat dengan sistoskop atau resektoskop dimasukkan melalui uretra ( Marilynn, E.D, 2000 : 679 ).
Maka pengertian TURP menurut kesimpulan penulis adalah pengangkatan sebagian atau seluruh kelenjar prostat yang telah menyebabkan obstruksi uretra dengan sistoskop atau resektoskop yang dimasukkan melalui uretra.
2. Faktor – faktor yang mempengaruhi
a. Anatomi fisiologi
Kelenjar prostat terletak tepat dibawah buli – buli dan mengitari uretra. Bagian bawah kelenjar prostat menempal pada diafragma urogenital atau sering disebut otot dasar panggul.
Kelenjar ini pada laki – laki dewasa kurang lebih sebesar buah kemiri, dengan panjang sekitar 3 cm, lebar 4 cm dan tebal kurang lebih 2,5 cm. Beratnya sekitar 20 gram.
Prostat terdiri dari jaringan kelenjar, jaringan stroma ( penyangga ) dan kapsul. Cairan yang dihasilkan kelenjar prostat bersama cairan dari vesikula seminalis dan kelenjar cowper merupakan komponen terbesar dari seluruh cairan semen. Bahan – bahan yang terdapat dalam cairan semen sangat penting dalam menunjang fertilitas, memberikan lingkungan yang nyaman dan nutrisi bagi spermatozoa serta proteksi terhadap invasi mikroba.
Kelainan pada prostat yang dapat mengganggu proses reproduksi adalah keradangan ( prostatitis ). Kelainan yang lain seperti pertumbuhan yang abnormal ( tumor ) baik jinak maupun ganas tidak memegang peranan penting pada proses reproduksi tetapi lebih berperan pada terjadinya gangguan aliran urin. Kelainan yang disebut belakangan ini manifestasinya biasanya pada laki – laki usia lanjut ( FK UNAIR / RSUD dr. Soetomo : 19 ).

b. Patofisiologi
Pembesaran prostat menyebabkan penyempitan lumen uretra prostatika dan akan menghambat aliran urin. Keadaan ini dapat meningkatkan tekanan intravesikal. Sebagai kompensasi terhadap tahanan uretra prostatika, maka otot detrusor dari buli – buli berkontraksi lebih kuat untuk dapat memompa urin keluar. Kontraksi yang terus – menerus menyebabkan perubahan anatomi dari buli – buli berupa :
hipertropi otot detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sakula dan difertikel buli – buli.
Perubahan struktur pada buli – buli dirasakan klien sebagai keluhan pada saluran kemih bagian bawah atau Lower Urinary Tract Symptom / LUTS (Basuki, 2000 : 76).
Puncak dari kegagalan kompensasi adalah ketidakmampuan otot detrusor memompa urine dan terjadi retensi urine. Retensi urin yang kronis dapat mengakibatkan kemunduran fungsi ginjal ( Sunaryo, H, 1999 : 11 ).

c. Etiologi
Penyebab yang pasti dari terjadinya BPH sampai sekarang belum diketahui. Namun yang pasti kelenjar prostat sangat tergantung pada hormon androgen. Faktor lain yang erat kaitannya dengan BPH adalah proses penuaan
Karena etiologi yang belum jelas maka melahirkan beberapa hipotesa yang diduga timbulnya hiperplasi prostat antara lain :
1). Dihydrotestosteron
Peningkatan 5 alfa reduktase dan reseptor androgen menyebabkan epitel dan stroma dari kelenjar prostat mengalami hiperplasi .
2). Perubahan keseimbangan hormon estrogen – testoteron
Pada proses penuaan pada pria terjadi peningkatan hormon estrogen dan penurunan testosteron yang mengakibatkan hiperplasi stroma.
3). Interaksi stroma – epitel
Peningkatan epidermal gorwth factor atau fibroblast growth factor dan penurunan transforming growth factor beta menyebabkan hiperplasi stroma dan epitel.
4). Berkurangnya sel yang mati
Estrogen yang meningkat menyebabkan peningkatan lama hidup stroma dan epitel dari kelenjar prostat.
5). Teori sel stem
Sel stem yang meningkat mengakibatkan proliferasi sel transit ( Roger Kirby, 1994 : 38 ).

d. Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis BPH dilakukan beberapa cara antara lain :
1). Anamnesa
Kumpulan gejala pada BPH dikenal dengan LUTS (Lower Urinary Tract Symptoms) antara lain: hesitansi, pancaran urin lemah, intermittensi, terminal dribbling, terasa ada sisa setelah miksi disebut gejala obstruksi dan gejala iritatif
berupa urgensi, frekuensi serta disuria. IPSS (International Prostate Symptoms Score) adalah kumpulan pertanyaan yang merupakan pedoman untuk mengevaluasi beratnya LUTS. Keadaan klien BPH dapat ditentukan berdasarkan skor yang diperoleh :
a). Skor 0 – 7 = gejala ringan.
b). Skor 8 – 19 = gejala sedang.
c). Skor 20 – 35 = gejala berat.
2). Pemeriksaan Fisik
Dilakukan dengan pemeriksaan tekanan darah, nadi dan suhu. Nadi dapat meningkat pada keadaan kesakitan pada retensi urin akut, dehidrasi sampai syok pada retensi urin serta urosepsis sampai syok – septik. Pemeriksaan abdomen dilakukan dengan tehnik bimanual untuk mengetahui adanya hidronefrosis, dan pyelonefrosis. Pada daerah supra simfiser pada keadaan retensi akan menonjol. Saat palpasi terasa adanya ballotemen dan klien akan terasa ingin miksi. Perkusi dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya residual urin. Penis dan uretra juga diperiksa untuk mendeteksi kemungkinan stenose meatus, striktur uretra, batu uretra, karsinoma maupun fimosis. Pemeriksaan skrotum untuk menentukan adanya epididimitis. Rectal touch / pemeriksaan colok dubur bertujuan untuk menentukan konsistensi sistim persarafan unit vesiko uretra dan besarnya prostat. Dengan rectal toucher dapat diketahui derajat dari BPH, yaitu :
a). Derajat I = beratnya  20 gram.
b). Derajat II = beratnya antara 20 – 40 gram.
c). Derajat III = beratnya  40 gram.
3). Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan darah lengkap, faal ginjal, serum elektrolit dan kadar gula digunakan untuk memperoleh data dasar keadaan umum klien. Pemeriksaan urin lengkap dan kulturnya juga diperlukan. PSA (Prostatik Spesific Antigen) penting diperiksa sebagai kewaspadaan adanya keganasan.
4). Pemeriksaan Uroflowmetri
Salah satu gejala dari BPH adalah melemahnya pancaran urin. Secara obyektif pancaran urin dapat diperiksa dengan uroflowmeter dengan penilaian :
a). Flow rate maksimal  15 ml / dtk = non obstruktif.
b). Flow rate maksimal 10 – 15 ml / dtk = border line.
c). Flow rate maksimal  10 ml / dtk = obstruktif.
5). Pemeriksaan Imaging dan Rontgenologik
a). BOF (Buik Overzich
Untuk melihat adanya batu dan metastase pada tulang.
b). USG (Ultrasonografi)
Digunakan untuk memeriksa konsistensi, volume dan besar prostat juga keadaan buli – buli termasuk residual urin. Pemeriksaan dapat dilakukan secara transrektal, transuretral dan supra pubik.
c). IVP (Pyelografi Intravena)
Digunakan untuk melihat fungsi exkresi ginjal dan adanya hidronefrosis. Dengan IVP, buli – buli dilihat sebelum, sementara dan sesudah isinya dikosongkan. Sebelum, untuk melihat adanya intravesikal tumor dan divertikel. Sementara (voiding cystografi), untuk melihat adanya reflux urin. Sesudah (post evacuation), untuk melihat residual urin.
6). Pemeriksaan Panendoskop
Untuk mengetahui keadaan uretra dan buli – buli (Sunaryo, H, 1999 : 11-21).

e. Penatalaksanaan
Modalitas terapi BPH adalah :
1). Watchful (observasi)
Yaitu pengawasan berkala pada klien setiap 3 – 6 bulan kemudian setiap tahun tergantung keadaan klien
2). Medikamentosa
Terapi ini diindikasikan pada BPH dengan keluhan ringan, sedang, dan berat tanpa disertai penyulit serta indikasi terapi pembedahan tetapi masih terdapat kontraindikasi atau belum “well motivated” Obat yang digunakan berasal dari: phitoterapi (misalnya: Hipoxis rosperi, Serenoa repens, dll), gelombang alfa blocker dan golongan supresor androgen.
3). Pembedahan
Indikasi pembedahan pada BPH adalah :
a). Klien yang mengalami retensi urin akut atau pernah retensi urin akut.
b). Klien dengan residual urin  100 ml.
c). Klien dengan penyulit.
d). Terapi medikamentosa tidak berhasil.
e). Flowmetri menunjukkan pola obstruktif.
Pembedahan dapat dilakukan dengan :
a). Pembedahan biasa / open prostatektomi.
b). TURP.
TURP dilakukan dengan memakai alat yang disebut resektoskop dengan suatu lengkung diathermi. Jaringan kelenjar prostat diiris selapis demi selapis dan
dikeluarkan melalui selubung resektoskop. Perdarahan dirawat dengan memakai diathermi, biasanya
dilakukan dalam waktu 30 sampai 120 menit, tergantung besarnya prostat. Selama operasi dipakai irigan akuades atau cairan isotonik tanpa elektrolit. Prosedur ini dilakukan dengan anastesi regional ( Blok Subarakhnoidal / SAB / Peridural ). Setelah itu dipasang kateter nomer Ch. 24 untuk beberapa hari. Sering dipakai kateter bercabang tiga atau satu saluran untuk spoel yang mencegah terjadinya pembuntuan oleh pembekuan darah. Balon dikembangkan dengan mengisi cairan garam fisiologis atau akuades sebanyak 30 – 50 ml yang digunakan sebagai tamponade daerah prostat dengan cara traksi selama 6 – 24 jam.Traksi dapat dikerjakan dengan merekatkan ke paha klien atau dengan memberi beban (0,5 kg) pada kateter tersebut melalui katrol. Traksi tidak boleh lebih dari 24 jam karena dapat menimbulkan penekanan pada uretra bagian penoskrotal sehingga mengakibatkan stenosis buli – buli karena ischemi. Setelah traksi dilonggarkan fiksasi dipindahkan pada paha bagian proximal atau abdomen bawah. Antibiotika profilaksis dilanjutkan beberapa jam atau
24 – 48 jam pasca bedah. Setelah urin yang keluar jernih kateter dapat dilepas .Kateter biasanya dilepas pada hari ke 3 – 5. Untuk pelepasan kateter, diberikan antibiotika 1 jam sebelumnya untuk mencegah urosepsis. Biasanya klien boleh pulang setelah miksi baik, satu atau dua hari setelah kateter dilepas (Doddy, M.S, 2000 : 6 ).
4). Alternatif lain (misalnya: TUIP, TUBD, Kriyoterapi, Hipertermia, Termoterapi, TUNA, Terapi Ultrasonik dan TULIP.

3. Dampak Masalah
Setiap perubahan yang terjadi selalu menimbulkan dampak. Begitu juga dengan individu yang telah dilakukan tindakan TURP akan mengalami perubahan baik yang mempengaruhi individu, keluarga maupun masyarakat.
a. Dampak bagi individu
Dampak yang sering muncul pada klien pasca TURP antara lain :
1). Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Timbulnya perubahan pemeliharaan kesehatan karena tirah baring selama 24 jam pasca TURP. Adanya keluhan nyeri karena spasme buli – buli memerlukan
penggunaan antispasmodik sesuai terapi dokter ( Marilynn, E.D, 2000 : 683).
2). Pola nutrisi dan metabolisme
Klien yang dilakukan anasthesi SAB tidak boleh makan dan minum sebelum flatus.
3). Pola eliminasi
Pada klien dapat terjadi hematuri setelah tindakan TURP. Retensi urine dapat terjadi bila terdapat bekuan darah pada kateter. Sedangkan inkontinensia dapat tejadi setelah kateter dilepas ( Sunaryo, H, 1999: 235 ).
4). Pola aktivitas dan latihan
Adanya keterbatasan aktivitas karena kondisi klien yang lemah dan terpasang traksi kateter selama 6 – 24 jam. Pada paha yang dilakukan perekatan kateter tidak boleh fleksi selama traksi masih diperlukan.

5). Pola tidur dan istirahat
Rasa nyeri dan perubahan situasi karena hospitalisasi dapat mempengaruhi pola tidur dan istirahat.
6). Pola kognitif perseptual
Sistem Penglihatan, Pendengaran, Pengecap, peraba dan Penghidu tidak mengalami gangguan pasca TURP.
7). Pola persepsi dan konsep diri
Klien dapat mengalami cemas karena kurang pengetahuan tentang perawatan serta komplikasi BPH pasca TURP.
8). Pola hubungan dan peran
Karena klien harus menjalani perawatan di rumah sakit, maka dapat mempengaruhi hubungan dan peran klien baik dalam keluarga, tempat kerja, dan masyarakat.
9). Pola reproduksi seksual
Tindakan TURP dapat menyebabkan impotensi dan ejakulasi retrograd ( Sunaryo, H, 1999 : 36 ).
10). Pola penanggulangan stres
Cemas dapat dialami klien karena kurang pengetahuan tentang perawatan dan komplikasi pasca TURP. Gali adanya stres pada klien dan mekanisme koping klien terhadap stres tersebut.

11). Pola tata nilai dan kepercayaan
Adanya traksi kateter memerlukan adaptasi klien dalam menjalankan ibadahnya.

b. Dampak bagi keluarga
Dengan adanya salah satu anggota keluarga yang dirawat di rumah sakit apalagi sampai tindakan operasi akan menimbulkan beban keluarga dalam pembiayaan, terutama bila yang sakit adalah kepala keluarga, karena akan mempengaruhi sumber pendapatan keluarga. Dalam keluarga dapat timbul rasa cemas atau faktor psikologis lain serta terjadi perubahan peran baik dalam pengambilan keputusan, mencari nafkah maupun pelindung keluarga.

c. Dampak bagi masyarakat
Masyarakat disekitarnya mungkin merasa kehilangan karena klien mengurangi interaksi sosial dengan masyarakat dimana klien bertempat tinggal karena harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Apalagi kalau klien adalah orang yang berkedudukan atau berpengaruh dalam lingkungannya.

B. Asuhan Keperawatan
Proses keperawatan merupakan proses pemecahan masalah yang dinamis dengan menggunakan metode ilmiah secara sistematik untuk mengenal masalah klien dan mencarikan alternatif pemecahannya dalam rangka memenuhi kebutuhan klien guna memperbaiki dan meningkatkan derajat kesehatan hingga tahap maksimal. Adapun tahapan dari proses keperawatan meliputi : pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi (Nasrul, E, 1995 : 3, 4 ).
1. Pengkajian
Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang bertujuan untuk mengumpulan informasi / data tentang klien, agar dapat mengidentifikasi, mengenali masalah, kebutuhan kesehatan dan keperawatan klien baik fisik, mental, sosial dan lingkungan ( Nasrul, E,1995 : 18 ).
a. Pengumpulan data
Data yang perlu dikumpulkan dari klien meliputi :
1). Identitas klien
Merupakan biodata klien yang meliputi : nama, umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa / ras, pendidikan, bahasa yang dipakai, pekerjaan, penghasilan dan alamat. Jenis kelamin dalam hal ini klien adalah laki – laki berusia lebih dari 50 tahun dan biasanya banyak dijumpai pada ras Caucasian (Donna, D.I, 1991 : 1743 ).
2). Keluhan utama
Keluhan utama yang biasa muncul pada klien BPH pasca TURP adalah nyeri yang berhubungan dengan spasme buli – buli. Pada saat mengkaji keluhan utama perlu diperhatikan faktor yang mempergawat atau meringankan nyeri ( provokative / paliative ), rasa nyeri yang dirasakan (quality), keganasan / intensitas ( saverity ) dan waktu serangan, lama, kekerapan (time).
3). Riwayat penyakit sekarang
Kumpulan gejala yang ditimbulkan oleh BPH dikenal dengan Lower Urinari Tract Symptoms ( LUTS ) antara lain : hesitansi, pancar urin lemah, intermitensi, terminal dribbling, terasa ada sisa setelah selesai miksi, urgensi, frekuensi dan disuria (Sunaryo, H, 1999 : 12, 13).
Perlu ditanyakan mengenai permulaan timbulnya keluhan, hal-hal yang dapat menimbulkan keluhan dan ketahui pula bahwa munculnya gejala untuk pertama kali atau berulang.
4). Riwayat penyakit dahulu
Adanya riwayat penyakit sebelumnya yang berhubungan dengan keadaan penyakit sekarang perlu ditanyakan . Diabetes Mellitus, Hipertensi, PPOM, Jantung Koroner, Dekompensasi Kordis dan gangguan faal darah dapat memperbesar resiko terjadinya penyulit pasca bedah ( Sunaryo, H, 1999 : 11, 12, 29 ). Ketahui pula adanya riwayat penyakit saluran kencing dan pembedahan terdahulu.
5). Riwayat penyakit keluarga
Riwayat penyakit pada anggota keluarga yang sifatnya menurun seperti : Hipertensi, Diabetes Mellitus, Asma perlu digali .
6). Riwayat psikososial
Kaji adanya emosi kecemasan, pandangan klien terhadap dirinya serta hubungan interaksi pasca tindakan TURP.
7). Pola – pola fungsi kesehatan
a). Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Timbulnya perubahan pemeliharaan kesehatan karena tirah baring selama 24 jam pasca TURP. Adanya keluhan nyeri karena spasme buli – buli memerlukan penggunaan anti spasmodik sesuai terapi dokter (Marilynn. E.D, 2000 : 683).
b). Pola nutrisi dan metabolisme
Klien yang di lakukan anasthesi SAB tidak boleh makan dan minum sebelum flatus .
c). Pola eliminasi
Pada klien dapat terjadi hematuri setelah tindakan TURP. Retensi urin dapat terjadi bila terdapat bekuan darah pada kateter. Sedangkan inkontinensia dapat terjadi setelah kateter di lepas (Sunaryo, H, 1999: 35)
d). Pola aktivitas dan latihan
Adanya keterbatasan aktivitas karena kondisi klien yang lemah dan terpasang traksi kateter selama 6 – 24 jam. Pada paha yang dilakukan perekatan kateter tidak boleh fleksi selama traksi masih diperlukan.
e). Pola tidur dan istirahat
Rasa nyeri dan perubahan situasi karena hospitalisasi dapat mempengaruhi pola tidur dan istirahat.
f). Pola kognitif perseptual
Sistem Penglihatan, Pendengaran, Pengecap, peraba dan Penghidu tidak mengalami gangguan pasca TURP.
g). Pola persepsi dan konsep diri
Klien dapat mengalami cemas karena ketidaktahuan tentang perawatan dan komplikasi pasca TURP.
h). Pola hubungan dan peran
Karena klien harus menjalani perawatan di rumah sakit maka dapat mempengaruhi hubungan dan peran klien baik dalam keluarga tempat kerja dan masyarakat.
i). Pola reproduksi seksual
Tindakan TURP dapat menyebabkan impotensi dan ejakulasi retrograd ( Sunaryo, H, 1999 : 36
j). Pola penanggulangan stress
Stress dapat dialami klien karena kurang pengetahuan tentang perawatan dan komplikasi pasca TURP. Gali adanya stres pada klien dan mekanisme koping klien terhadap stres tersebut.
k). Pola tata nilai dan kepercayaan
Adanya traksi kateter memerlukan adaptasi klien dalam menjalankan ibadahnya .
8). Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan didasarkan pada sistem – sistem tubuh antara lain :
a). Keadaan umum
Setelah operasi klien dalam keadaan lemah dan kesadaran baik, kecuali bila terjadi shock. Tensi, nadi dan kesadaran pada fase awal ( 6 jam ) pasca operasi harus diminitor tiap jam dan dicatat. Bila keadaan tetap stabil interval monitoring dapat diperpanjang misalnya 3 jam sekali (Tim Keperawatan RSUD. dr. Soetomo, 1997 : 20 ).
b). Sistem pernafasan
Klien yang menggunakan anasthesi SAB tidak mengalami kelumpuhan pernapasan kecuali bila dengan konsentrasi
tinggi mencapai daerah thorakal atau servikal (Oswari, 1989 : 40).
c). Sistem sirkulasi
Tekanan darah dapat meningkat atau menurun pasca TURP. Lakukan cek Hb untuk mengetahui banyaknya perdarahan dan observasi cairan (infus, irigasi, per oral) untuk mengetahui masukan dan haluaran.
d). Sistem neurologi
Pada daerah kaudal akan mengalami kelumpuhan (relaksasi otot) dan mati rasa karena pengaruh anasthesi SAB (Oswari , 1989 : 40).
e). Sistem gastrointestinal
Anasthesi SAB menyebabkan klien pusing, mual dan muntah (Oswari, 1989 : 40) . Kaji bising usus dan adanya massa pada abdomen .

f). Sistem urogenital
Setelah dilakukan tindakan TURP klien akan mengalami hematuri . Retensi dapat terjadi bila kateter tersumbat bekuan darah. Jika terjadi retensi urin, daerah supra sinfiser akan terlihat menonjol, terasa ada ballotemen jika dipalpasi dan klien terasa ingin kencing (Sunaryo, H ,1999 : 16). Residual urin dapat diperkirakan dengan cara perkusi. Traksi kateter dilonggarkan selama 6 – 24 jam (Doddy, 2001 : 6).
g). Sistem muskuloskaletal
Traksi kateter direkatkan di bagian paha klien. Pada paha yang direkatan kateter tidak boleh fleksi selama traksi masih diperlukan. (Tim Keperawatan RSUD. dr. Soetomo, 1997 : 21).
9). Pemeriksaan penunjang
a). Laboratorik
Setiap penderita pasca TURP harus di cek kadar hemoglobinnya dan perlu diulang secara berkala bila urin tetap merah dan perlu di periksa ulang bila terjadi penurunan tekanan darah dan peningkatan nadi. Kadar serum kreatinin juga perlu diulang secara berkala terlebih lagi bila sebelum operasi kadar kreatininnya meningkat. Kadar natrium serum harus segera diperiksa bila terjadi sindroma TURP. Bila terdapat tanda septisemia harus diperiksa kultur urin dan kultur darah ( Tim Keperawatan RSUD. dr. Soetomo, 1997 : 21 ).
b). Uroflowmetri
Yaitu pemeriksaan untuk mengukur pancar urin. Dilakukan setelah kateter dilepas ( Lab / UPF Ilmu bedah RSUD dr. Soetomo, 1994 : 114).
b. Analisa dan sintesa data
Setelah data dikumpulkan, dikelompokkan dan dianalisa kemudian data tersebut dirumuskan ke dalam masalah keperawatan . Adapun masalah yang mungkin terjadi pada klien BPH pasca TURP antara lain : nyeri, retensi urin, resiko tinggi infeksi, resiko tinggi kelebihan cairan, resiko tinggi ketidakefektifan pola napas, resiko tinggi kekurangan cairan, kurang pengetahuan, inkontinensia dan resiko tinggi disfungsi seksual .

c. Diagnosa keperawatan
Berdasarkan analisa data yang diperoleh maka dapat dirumuskan diagnosa keperawatan pada klien BPH pasca TURP sebagai berikut :
1). Nyeri ( akut ) berhubungan dengan iritasi mukosa buli – buli : reflek spasme otot sehubungan dengan prosedur bedah dan / atau tekanan dari traksi.
( Marilynn, E.D, 2000 : 683 )
2). Resiko tinggi kekurangan cairan berhubungan dengan kehilangan darah berlebihan .
3). Resiko tinggi kelebihan cairan yang berhubungan dengan absorbsi cairan irigasi (TURP).
4). Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan kateter di buli – buli.
5). Resiko tinggi terhadap ketidakefektifan pola napas yang berhubungan anastesi .
6). Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang informasi tentang rutinitas pasca operasi, gejala untuk dilaporkan, perawatan di rumah dan intruksi evaluasi .
( Susan, M . T, 1998 : 609,610 )
7). Retensi urin berhubungan dengan obstruksi sekunder dari TURP .
8). Inkontinensia urin berhubungan dengan pengangkatan kateter pasca TURP .
9). Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan TURP.
(Barbara, C.L, 1996: 339,341)
2. Perencanaan
Rencana asuhan keperawatan adalah petujuk tertulis yang menggambarkan secara tepat mengenai rencana tindakan yang dilakukan terhadap klien sesuai dengan kebutuhannya berdasarkan diagnosa keperawatan. Penyusunan rencana melibatkan klien secara optimal agar
dalam pelaksanaan asuhan keperawatan terjalin suatu kerjasama dalam rangka proses pencapaian tujuan keperawatan.
Langkah awal perencanaan adalah menetapkan prioritas diagnosa keperawatan. Penentuan skala prioritas diagnosa keperawatan adalah dengan menilai klien sebagai mahluk bio-psiko-sosial-spiritual berdasarkan tingkat kebutuhan menurut Maslow dengan kategori: keadaan yang mengancam kehidupan, mengancam kesehatan, dan persepsi tentang kesehatan dan keperawatan (Nasrul, E.F, 1995:34-36).
a. Resiko tinggi ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan anastesi.
1). Tujuan
Pola napas tetap efektif
2). Kriteria hasil
Paru-paru bersih pada auskultasi, frekuensi dan irama napas dalam batas normal, melakukan batuk dan napas dalam tanpa kesulitan.

3). Rencana tindakan dan rasional
a). Bantu klien dengan spirometer insentif jika dianjurkan.
Rasional: memaksimalkan ekspansi paru.
b). Ajarkan dan bantu klien untuk membalik, batuk, dan napas dalam tiap 2 jam.
Rasional: merupakan upaya untuk mengeluarkan sekret.
c). Kaji bunyi napas tiap 4 jam.
d). Laporkan penurunan atau tidak adanya bunyi napas pada tim medis.
e). Kaji kulit terhadap tanda sianosis dan diaforesis.
f). Pantau dan laporkan gejala gangguan pertukaran gas kacau.
Rasional : (c, d, e, f): deteksi dini ketidakefektifan pola napas.
g). Berikan obat penghilang nyeri dengan interval yang tepat untuk mengurangi nyeri.
Rasional: berkurang / hilangnya nyeri dapat membantu klien melakukan latihan batuk dan napas dalam secara efektif.

b. Resiko tinggi kekurangan cairan yang berhubungan dengan kehilangan darah berlebihan.
1). Tujuan
Keseimbangan cairan tubuh tetap terpelihara.
2). Kriteria hasil
Mempertahankan hidrasi adekuat dibuktikan dengan: tanda -tanda vital stabil, nadi perifer teraba, pengisian perifer baik, membran mukosa lembab dan keluaran urin tepat.
3). Rencana tindakan dan rasional
a). Benamkan kateter, hindari manipulasi berlebihan.
Rasional : gerakan penarikan kateter dapat menyebabkan perdarahan atau pembentukan bekuan darah dan pembenaman kateter pada distensi buli-buli.
b). Pantau masukan dan haluaran cairan.
Rasional: indikator keseimangan cairan dan kebutuhan penggantian.
c). Observasi drainase kateter, hindari manipulasi berlebihan atau berlanjut.
Rasional : perdarahan tidak umum terjadi 24 jam pertama tetapi perlu pendekatan perineal. Perdarahan kontinu / berat atau berulangnya perdarahan aktif memerlukan intervensi / evaluasi medik.
d). Evaluasi warna, konsistensi urin, contoh :
Merah terang dengan bekuan darah
Rasional : mengindikasikan perdarahan arterial dan memerlukan terapi cepat.
Peningkatan veskositas, warna keruh gelap dengan bekuan gelap.
Rasional : menunjukkan perdarahan vena, biasanya berkurang sendiri.
e). Awasi tanda-tanda vital, perhatikan peningkatan nadi dan pernapasan, penurunan tekanan darah, diaforesis, pucat, pelambatan pengisian kapiler dan membran mukosa kering.
f). Selidiki kegelisahan, kacau mental dan perubahan perilaku.
Rasional : dapat menunjukkan penurunan perfusi serebral.
g). Dorong pemasukan cairan 3000 ml/harikecuali kontraindikasi.
Rasional : membilas gonjal / buli-buli dari bakteri dan debris. Awasi dengan ketat karena dapat mengakibatkan intoksikasi cairan.
h). Hindari pengukuran suhu rektal dan penggunaan selang rektal / enema.
Rasional : dapat mengakibatkan penyebaran iritasi terhadap dasar prostat dan peningkatan kapsul prostat dengan resiko perdarahan.
i). Kolaborasi dalam memantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi, contoh:
Hb / Ht, jumlah sel darah merah.
Rasional : berguna dalam evaluasi kehilangan darah/kebutuhan penggantian.
Pemeriksaan koagulasi, jumlah trombosi
Rasional : dapat mengindikasikan terjadinya komplikasi misalnya penurunan faktor pembekuan darah, KID.
j). Pertahankan traksi kateter menetap, plester kateter di bagian paha dalam.
Rasional : traksi kan membuat tekanan pada aliran darah di kapsul prostat untuk membantu mencegah / mengontrol perdarahan.
k). Kendorkan traksi dalam 6 – 24 jam. Catat periode pemasangan dan pengendoran traksi, bila diperlukan.
Rasional : traksi lama dapat menyebabkan trauma / masalah permanen dalan mengotrol urin.
l). Berikan pelunak feses, laksatif sesuai indikasi.
Rasional : pencegahan konstipasi / mengejan untuk defekasi menurunkan resiko perdarahan rektal-perineal.

c. Resiko tinggi terjadinya kelebihan cairan yang berhubungan dengan absorbsi cairan irigasi (TURP).
1). Tujuan
Keseimbangan cairan tetap terpelihara.
2). Kriteria hasil
Masukan dan haluaran seimbang, irigan keluar secara total, sadar penuh, berorientasi, dan menunjukkan tak ada abnormalitas fungsi motorik.
3). Rencana tindakan dan rasional
a). Pantau dan laporkan tanda dan gejala difusi hiponatremia.
Rasional : Hiponatremi adalah tanda kelebihan cairan.
b). Pantau masukan dan haluaran tiap 4 – 8 jam.
Rasional : indikator keseimbangan cairan dan kebutuhan penggantian.
c). Hentikan irigasi saat saat tanda kelebihan cairan terjadi dan laporkan tim medis.
Rasional : mencegah absorbsi yang berlebihan.
d). Gunakan spuit untuk mengirigasi kateter oleh bekuan darah jika diinstruksikan.
Rasional: mencegah terjadinya retensi

d. Retensi urin berhubungan dengan obstruksi sekunder dari TURP.
1). Tujuan
Retensi urin teratasi.
2). Kriteria hasil
Eliminasi urin kembali normal, menunjukkan perilaku peningkatan kontrol buli-buli.
3). Rencana tindakan dan rasional
a). Awasi masukan dan haluaran serta karakteristiknya.
Rasional: deteksi dini terjadinya retensi urin.
b). Kolaborasi dalam mempertahankan irigasi secara konstan selama 24 jam pertama.
Rasional: mencuci buli-buli dari bekuan darah dan debris untuk mempertahankan patensi kateter / aliran urin.
c). Dorong pemasukan 3000 ml / hari sesuai toleransi.
Rasional: mempertahankan hidrasi adekuat dan perfusi ginjal untuk aliran urin.
d). Setelah kateter diangkat, terus pantau gejala-gejala retensi.
Rasional: deteksi dini terjadinya retensi.

e. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan kateter di buli – buli.
1). Tujuan
Infeksi dicegah.
2). Kriteria hasil
Mencapai waktu penyembuhan, tidak mengalami tanda infeksi.
3). Rencana tindakan dan rasional
a). Pertahankan sistem kateter steril, berikan perawatan kateter reguler dengan sabun dan air, berikan salep antibiotik disekitar sisi kateter.
Rasional: mencegah pemasukan bakteri dan infeksi / sepsis lanjut.
b). Ambulasi dengan kantung drainase dependen.
Rasional: menghindari reflek balik urin dapat memasukkan bakteri ke dalam buli – buli.
c). Awasi tanda dan gejala infeksi saluran perkemihan.
Rasional: mendeteksi infeksi sejak dini.
d). Berikan antibiotik sesuai indikasi.
Rasional: kemungkinan diberikan secara profilaktik berhubungan dengan peningkatan resiko pada prostatektomi.

f. Nyeri (akut) berhubungan dengan iritasi mukosa buli-buli: reflek spasme otot sehubungan dengan prosedur bedah dan / atau tekanan dari traksi.
1). Tujuan
Nyeri hilang / terkontrol.
2). Kriteria hasil
Klien melaporkan nyeri hilang / terkontrol, menunjukkan ketrampilan relaksasi dan aktivitas terapeutik sesuai indikasi untuk situasi individu. Tampak rileks, tidur / istirahat dengan tepat.
3). Rencana tindakan dan rasional
a) Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas ( skala 0 – 10 ).
Rasional: nyeri tajam, intermitten dengan dorongan berkemih / masase urin sekitar kateter menunjukkan spasme buli-buli, yang cenderung lebih berat pada pendekatan TURP ( biasanya menurun dalam 48 jam ).
4). Pertahankan patensi kateter dan sistem drainase. Pertahankan selang bebas dari lekukan dan bekuan.
Rasional: mempertahankan fungsi kateter dan drainase sistem, menurunkan resiko distensi / spasme buli – buli.
5). Tingkatkan pemasukan sampai 3000 ml/hari sesuai toleransi.
Rasional: menurunkan iritasi dengan mempertahankan aliran cairan konstan mukosa buli – buli.
6). Berikan tindakan kenyamanan ( sentuhan terapeutik, pengubahan posisi, pijatan punggung ) dan aktivitas terapeutik. Dorong tehnik relaksasi termasuk latihan napas dalam, visualisasi dan pedoman imajinasi.
Rasional: menurunkan tegangan otot, memfokusksn kembali perhatian dan dapat meningkatkan kemampuan koping.
7). Berikan rendam duduk atau lampu penghangat bila diindikasikan.
Rasional: meningkatkan perfusi jaringan dan perbaikan edema serta meningkatkan penyembuhan ( pendekatan perineal ).
8). Kolaborasi dalam pemberian antispasmodik, contoh:
Oksibutinin klorida ( Ditropan ), B dan O supositoria.
Rasional: relaksasi otot, untuk menurunkan spasme dan nyeri.
Propanteli bromida ( Pro-Bantanin ).
Rasional: menghilangkan spasme buli-buli oleh kerja antikolinergik. Biasanya dihentikan 24-48 jam sebelum perkiraan pengangkatan kateter
untuk meningkatkan kontrol kontraksi buli-buli.

g. Inkontinensia urin berhubungan dengan pengangkatan kateter pasca TURP.
1). Tujuan
Inkontinensia dapat teratasi
2). Kriteria hasil
Eliminasi urin kembali normal, menunjukkan perilaku meningkatkan kontrol berkemih.
3). Rencana tindakan dan rasional
a). Kaji terjadinya tetesan urin setelah kateter diangkat.
Rasional: mendeteksi inkontinensia.
b). Bila terjadi tetesan :
(1). Katakan pada klien bahwa hal tersebut biasa dan kontinen akan pulih.
Rasional : klien harus dibesarkan harapannya bahwa itu normal.
(2). Penyuluhan latihan perineal.
Rasional : bantuan uantuk pengendalian kandung kemih.

h. Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan TURP.
1). Tujuan
Fungsi seksual dapat dipertahankan
2). Kriteria hasil
Klien tampak rileks dan melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat diatasi
3). Rencana tindakan dan rasional
a). Berikan keterbukaan pada klien/orang dekat untuk membicarakan tentang masalah fungsi seksual.
Rasional : klien dapat mengalami cemas karena efek bedah yang dapat mempengaruhi kemampuan untuk menerima informasi.
b). Berikan informasi tentang harapan kembalinya fungsi seksual.
Rasional : impotensi fisiologis terjadi bila saraf perineal dipotong selama prosedur radikal : pada pendekatan lain, aktivitas seksual dapat dilakukan seperti biasanya selama 6 – 8 minggu.
c). Diskusikan dasar anatomi dan jujur dalam menjawab pertanyaan klien
Rasional : saraf pleksus mengontrol aliran secara posterior ke prostat melalui kapsul. Pada prosedur yang tidak melibatkan kapsul prostat, imponten dan sterilitas biasanya tidak menjadi kosekuensi. Prosedur bedah bukan merupakan pengobatan permanen, sehingga hipertropi dapat berulang.
d). Diskusikan tentang ejakulasi retrograd.
Rasional : ejakulai retrograd tidak mempengaruhi fungsi seksual, tetapi akan menurunkan kesuburan dan menyebabkan urin keruh.
e). Instruksikan latihan perineal dan interupsi / kontinu aliran urin.
Rasional : meningkatkan kontrol otot kontinensia urinaria dan fungsi seksual.
f). Rujuk ke penasehat seksual sesuai indikasi.
Rasional : masalah menetap / tidak teratasi memerlukan intervensi profesional.

i. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang informasi tentang rutinitas pasca operasi, gejala untuk dilaporkan, perawatan di rumah dan intruksi evaluasi.
1). Tujuan
Meningkatkan pengetahuan klien.
2). Kriteria hasil
Klien dan / atau keluarga mengungkapkan mengerti tentang rutinitas pasca operasi, gejala yang harus dilaporkan, perawatan di rumah, intruksi evaluasi serta demonstrasi ulang perawatan kateter dan latihan perineal.
3). Rencana tindakan dan rasional
a). Pertegas perlunya asupan cairan oral yang adekuat 3000 ml / hari kecuali kontra indikasi.
Rasional: hidrasi yang optimal membantu menegakkan kembali tonus otot buli – buli setelah pencabutan kateter dengan merngsang miksi, pengenceran urin dan menurunkan kerentanan infeksi saluran kemih dan pewmbentukan bekuan darah.
b). Ajarkan perawatan kateter :
(a). Cuci meatus urinarius dengan sabun dan air 2x / hari.
(b). Tingkatkan frekuensi pembilasan jika tampak jelas drainase di sekitar tempat pemasangan kateter.
Rasional: membantu mengurangi resiko infeksi saluran kencing.
c). Pertegas pembatasan aktivitas antara lain:
(1). Hindari mengedan saat BAB, tingkatkan asupan diit tinggi serat atau gunakan pencahar jika ada indikasi.
(2). Jangan gunakan supositoria atau enema.
(3). Hindari duduk dengan kaki tergantung.
(4). Hindari mengangkat benda berat dan aktivitas yang berat.
(5). Hindari hubungan seksual hingga diperbolehkan ( biasanya 6 – 8 minggu setelah pembedahan ).
Rasional: mengurangi resiko perdarahan internal.
d). Anjurkan klien melakukan hal berikut:
(1). Berjalan lama.
(2). Menggunakan tangga.
Rasional: aktivitas ini tidak menghalangi penyembuhan tempat pembedahan.
e). Jelaskan harapan untuk mengontrol urin ketika dicabut:
(1). Tetesan, frekuensi, urgensi mungkin terjadi pada awal tetapi secara bertahap.
(2). Latihan perineal ( bokong tegang, tahan dan lepaskan selama 10 – 20 menit tiap jam ) dapat membantu mempercepat memulihkan kontrol urin.
(3). Lakukan latihan sesuai toleransi, hindari latihan yang membutuhkan kekuatan otot dan rencanakan waktu istirahat sering.
(4). Berkemih sesegera mungkin, mencegah retensi urin.
(5). Menghindari kafein dan alkohol dapat membantu mencegah masalah.
(6). Hematuri transien adalah normal dan seharusnya menurun dengan peningkatan asupan cairan.
Rasional: Kesukaran untu melanjutkan pola miksi normal dapat berhubungan dengan trauma leher buli-buli, ISK, atau iritasi kateter. Drainase akan menurunkan kontrol otot. Kafein sebagai diuretik ringan membuatnya lebih sukar mengontrol urin. Alkohol meningkatkan sensasi terbakar.
f). Diskusikan nama obat, dosis, jadwal penggunaan, tujuan dan efek samping.
Rasional: klien mengetahui nama, dosis, jadwal, tujuan dan efek samping obat yang diresepkan.
g). Tinjau tanda dan gejala komplikasi:
(1). Ketidakmampuan berkemih lebih dari 6 jam.
(2). Menggigil, nyeri punggung dan demam.
(3). Peningkatan hematuri.
Rasional: deteksi awal memungkinkan intervensi cepat untuk meminimalkan keparahan komplikasi.
(a). Ketidakmampuan berkemih menunjukkan ISK.
(b). Merupakan gejala ISK.
(c). Adanya perdarahan.

DAFTAR PUSTAKA

Alif, S., 1995. Benigne Prostate Hiperplasia, Makalah. Surabaya.
Doenges, M.E., Marry, F..M and Alice, C.G., 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Data Urologi Impatient, 1999. SMF Urologi RSUD. dr. Soetomo. Surabaya.
Effendi, N., 1995. Pengantar Proses Keperawatan. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Hardjowidjoto, S.
1993. Anatomi Fisiologi Traktus Urogenital. Surabaya, Program Studi Urologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga / RSUD. dr. Soetomo.
1999. Benigna Prostat Hiperplasi. Surabaya, Airlangga University Press.

Ignatavicus, D.D and Marilyn, F.B., 1991. Medical Surgical Nursing : A Nursing Procces Approach. International Edition. Philadelpia, W.B Saunders Company.

Kirby, R, John F.P, Michael, K, Andrew, F.P and Louis, J.D., 1994. Shared Care For Prostatic Disease. Oxford, ISIS Medical Media.

Long, B.C., 1996. Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Lab / UPF Ilmu Bedah, 1994. Pedoman Diagnosis Dan Terapi. Surabaya, Fakultas Kedokteran Airlangga / RSUD. dr. Soetomo.

Lismidar, H., 1989. Proses keperawatan. Jakarta, Universitas Indonesia.
Ndraha Taliziduhu, Dr., 1985. Research : Teori, Metodologi, Administrasi. Jakarta, PT. Bina Aksara. Anggota IKAPI.

Oswari, Dr. 1989. Bedah Dan Perawatannya. Jakarta, PT. Gramedia. Anggota IKAPI.

Soebandi, D.M., 2001. Benign Prostate Hyperplasia : Permasalahan, Perawatan Dan Pembedahan. Seminar Keperawatan. Surabaya, SMF Urologi Lab. Ilmu Bedah RSUD. dr. Soetomo.

Surabaya Post. Tanggal 7 Juni 2001. Hal. 20. Kolom 2, BPH, Pembesaran Prostat Yang Tak Terelakkan.

Tucker, S.M., Marry, M.C, Eleanor, V, Paquette, M and Fyfe, W., 1998. Standar Perawatan Pasien : Proses Keperawatan, Diagnosis Dan Evaluasi. Volume III. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Tim Keperawatan RSUD. dr. Soetomo, 1997. Standar Asuhan Keperawatan Penyakit Bedah. Surabaya, Bidang Perawatan RSUD. Dr. Soetomo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s